22 Sep 2019

MASYARAKAT PERLU PEMAHAMAN DETEKSI DINI BENCANA LONGSOR

Kulonprogo yang memiliki wilayah berbukit-bukit memiliki potensi besar terjadinya tanah longsor. Hal ini mendorong BPBD DIY maupun Kulonprogo untuk lebih sering melakukan sosialisasi penanggulangan dan penanganan bencana, khususnya tanah longsor. Salah satunya adalah sosialisasi kesiapsiagaan peringatan dini dalam mengantisipasi terjadinya bencana di masyarakat yang digelar oleh BPBD DIY di Kulonprogo, Rabu (9/5).


Sosialisasi tersebut menghadirkan pakar geologi lingkungan UGM, Dwikorita Karnawati, yang memaparkan tentang Sistem Deteksi Dini Bahaya Longsor Berbasis Komunitas. Selain itu hadir pula Lilik Andi Aryanto, SIP, MM, Kasie Pencegahan Bencana BPBD DIY, memaparkan tentang manajemen Kesiapsiagaan Bencana, dan Untung Waluyo, Kepala Pelaksana BPBD Kulonprogo sebagai moderator.


Dalam pemaparannya Dwi Korita menjelaskan bahwa sistem deteksi dini bahaya longsor berbasis komunitas tidak bisa diterapkan secara penuh karena daerah rentan longsor telah padat pemukiman dan kesulitan untuk dilakukan relokasi serta belum tersedianya sistem peringatan dini longsor yang sederhana dan efektif, dalam artian alat sudah ada tetapi masyarakat biasa tidak bisa menjadi operator alat tersebut karena masih rumit.


Menurut Dwikorita, tujuan pengembangan sistem peringatan dini bahaya longsor adalah membangun kesiapan warga masyarakat untuk siap dalam mengantisipasi dan menyelamatkan diri dari bahaya longsor dan menyediakan seperangkat instrument dan kelengkapannya, untuk memberikan peringatan dini bahaya longsor. Namun instrumen hanyalah salah satu faktor penentu, selain itu harus ada peta bahaya dan risiko bencana longsor, dan sistem sosial melalui terbentuknya forum/satgas siaga bencana desa, yang didukung oleh jaringan siaga bencana yang relevan serta terbentuknya program kegiatan siaga bencana desa "Artinya masyarakat merupakan bagian terpenting dalam penanggulangan bencana longsor ini, sedangkat alat deteksi dini hanyalah salah satu penunjang saja," tuturnya.


Untuk itu, supaya peralatan deteksi dini bisa berdaya guna, dilakukan dengan memperkuat sistem sosial di wilayah tersebut hingga memunculkan komitmen masyarakat sendiri. Penguatan sistem sosial melibatkan seluruh warga melalui sekolah atau kumpulan masyarakat untuk meningkatkan pemahaman terhadap alat yang akan dipasang, sehingga jika masyarakat memahami pentingnya alat tersebut diharapkan masyarakat akan ikut menjaga keberlangsungan alat tersebut.


"Oleh karena itu, sebelum pemasangan alat harus didahului dengan pendekatan sosial psikologi untuk mengetahui tingkat kondisi psikologis masyarakat. Sehingga penyusunan strategi pelibatan masyarakat bisa berbeda-beda antara satu daerah dengan daerah lain.


Tim juga berusaha menangkap persepsi psikologis masyarakat terhadap bencana, jika kondisi psikologis masyarakat sudah bisa diketahui, alat bisa segera dipasang di tempat yang tidak mengganggu kegiatan masyarakat," ungkapnya di sela-sela rehat.


Namun ironisnya, meskipun alat deteksi tanah longsor produksi oleh UGM ini sudah banyak terpasang di luar DIY, belum ada yang terpasang di Kulonprogo, ataupun di DIY. Menurut Dwi Korita, belum terpasangnya alat ini bukan karena masalah harganya yang tinggi, tetapi hingga kini belum ada permintaan, mungkin hal ini disebabkan karena masyarakat sudah terbiasa mengalami tanah longsor sehingga mempunyai ‘ilmu titen' sendiri mengenai indikasi terjadinya longsor ataupun belum dianggap sebagai suatu prioritas.


Mengenai akurasi alat deteksi longsor, Dwikorita menjelaskan bahwa meskipun akurasi alat ini tinggi, tetapi akurasi ini bisa saja menyesatkan, dalam artian, lokasi longsor sangat banyak namun alat yang tersedia sedikit, tidak bisa mencakup seluruh daerah yang rawan bencana longsor, sehingga masyarakat lengah dan menganggap wilayah yang tidak dipasang alat deteksi bukan merupakan daerah rawan longsor.


Sementara itu Lilik memaparkan, manajemen bencana meliputi tahap-tahap manajemen risiko bencana (Pencegahan dan Mitigasi), manajemen kedaruratan, dan manajemen pemulihan. Selain itu, meskipun bencana datang mendadak, seharusnya ada perencanaan dalam penanggulangan bencana yang meliputi rencana manajemen bencana, rencana kedaruratan, rencana kontinjensi, rencana operasi dan rencana pemulihan.


Dijelaskan oleh Lilik bahwa rencana kontinjensi merupakan perencanaan dalam tahap kesiapsiagaan, yang merupakan suatu proses perencanaan ke depan, dalam keadaan yang tidak menentu, dimana skenario dan tujuan disepakati, tindakan teknis dan manajerial ditetapkan, dan sistem tanggapan dan pengerahan potensi disetujui bersama untuk mencegah, atau menanggulangi secara lebih baik dalam situasi darurat atau kritis.

 Di luar forum, Untung Waluyo menjelaskan bahwa langkah-langkah yang telah dilakukan BPBD dalam penanggulangan bencana tanah longsor antara lain sosialisasi, menyiapkan pengurangan resiko bencana, dan membentuk desa siaga bencana. Sosialisasi dimaksudkan untuk memberi pemahaman kepada masyarakat mengenai tanda-tanda alam yang nampak menjelang longsor antara lain hujan selama dua jam berturut-turut, terdengar gemericik air di bawah tebing, dan adanya rekahan tanah. "Jika terlihat ada tanda-tanda tersebut, dimohon masyarakat siap untuk mengevakuasi diri, minimal menjauhi lokasi," tegas Untung.


Mengenai kejadian pasca bencana, Untung menjelaskan jika menyangkut keadaan gawat darurat, BPBD segera menindaklanjuti dengan menggunakan dana tak terduga, tetapi hal tersebut tidak bisa dipaksakan, artinya keadaan tersebut juga harus diverifikasi yang dilakukan oleh 4 SKPD, yaitu Dinas PU, Bappeda, Bagian Pembangunan dan BPBD sendiri. "Usulan penggunaan dana tak terduga dipastikan ditandatangani oleh 4 SKPD tersebut, tidak bisa kurang dari empat SKPD tersebut," ungkap Untung.


Untung menambahkan di tahun 2012 ini dana tak terduga BPBD sudah dicairkan untuk lima titik, sedangkan tahun 2011 ada 11 titik. Untuk cairnya dana tersebut harus sesuai dengan syarat-syarat kebencanaan, kedaruratan, mengancam jiwa, dan prioritas. Kondisi darurat harus dikeluarkan secara resmi oleh Bupati, bukan BPBD sendiri.(mc)

Tags :  

Berita Terkait

SubDomain